Aku mencintaimu seperti
mencintai puisi yang hilang,
Yang dulu disuarakan oleh
para pejuang,
Kini mungkin hanya menjadi
gema yang samar,
Terkubur di balik
layar-layar yang menutupi pandangan.
Tapi di dalam resah ini,
Ada nyala kecil yang masih
kupegang erat,
Nyala harapan dari mereka
yang diam-diam menanam,
Di balik reruntuhan mimpi
yang tak pernah terwujud.
Mereka yang tak peduli pada
sorot lampu panggung,
Namun tahu bahwa masa depan
ada di dalam tanah,
Di tangan yang berkeringat,
Di hati yang berani
berharap.
Jika kau adalah puisi,
Maka aku ingin menulismu
dengan tinta emas,
Bukan dengan darah air mata
mereka yang terpinggirkan.
Aku ingin kau menjadi bait
yang abadi,
Terukir di langit sejarah
yang tak lekang oleh waktu,
Namun aku takut,
Bahwa kau akan terjebak
dalam ironi,
Di mana cita-citamu menjadi
sayap yang tak bisa terbang.
Maka, di ujung senja ini,
Aku menyeru pada langit dan
bumi,
Agar langkah kita tak
tersesat dalam kabut,
Agar anak-anakmu bisa menanam
benih baru,
Di tanah yang masih subur
oleh harapan,
Bukan oleh mimpi yang
terkubur.
Regina Caeli School,
17/09/2024












