Senin, 16 September 2024

Resah di Ujung Senja

 

Aku mencintaimu seperti mencintai puisi yang hilang,

Yang dulu disuarakan oleh para pejuang,

Kini mungkin hanya menjadi gema yang samar,

Terkubur di balik layar-layar yang menutupi pandangan.

 

Tapi di dalam resah ini,

Ada nyala kecil yang masih kupegang erat,

Nyala harapan dari mereka yang diam-diam menanam,

Di balik reruntuhan mimpi yang tak pernah terwujud.

Mereka yang tak peduli pada sorot lampu panggung,

Namun tahu bahwa masa depan ada di dalam tanah,

Di tangan yang berkeringat,

Di hati yang berani berharap.

 

Jika kau adalah puisi,

Maka aku ingin menulismu dengan tinta emas,

Bukan dengan darah air mata mereka yang terpinggirkan.

Aku ingin kau menjadi bait yang abadi,

Terukir di langit sejarah yang tak lekang oleh waktu,


Namun aku takut,

Bahwa kau akan terjebak dalam ironi,

Di mana cita-citamu menjadi sayap yang tak bisa terbang.


Maka, di ujung senja ini,

Aku menyeru pada langit dan bumi,

Agar langkah kita tak tersesat dalam kabut,

Agar anak-anakmu bisa menanam benih baru,

Di tanah yang masih subur oleh harapan,

Bukan oleh mimpi yang terkubur.

Regina Caeli School, 17/09/2024


0 komentar:

Posting Komentar

Resah di Ujung Senja

  Aku mencintaimu seperti mencintai puisi yang hilang, Yang dulu disuarakan oleh para pejuang, Kini mungkin hanya menjadi gema yang sa...