Di tepi sebuah danau yang tenang, terhampar sebuah desa kecil yang indah. Desa itu dikenal dengan nama Wae, sebuah kata yang dalam bahasa setempat berarti "Air". Di dalam desa hiduplah seorang pemuda bernama Ranu. Dia dikenal oleh penduduk desa sebagai "Ranu Si Penjala Pikiran" karena kemampuannya yang luar biasa dalam merenung dan memahami berbagai situasi.
Ranu memiliki wajah yang selalu tampak tenang, matanya penuh dengan kedalaman, dan senyumnya yang hangat mampu menghibur siapa pun yang bertemu dengannya. Setiap pagi, dia duduk di bawah pohon tua di tepi danau, memandang air yang tenang sambil merenung. Orang-orang datang kepada Ranu ketika mereka memiliki masalah atau pertanyaan yang sulit. Ranu akan mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu dengan bijaksana memberikan saran yang membuat mereka merasa lebih baik.
Suatu hari, sebuah peristiwa besar mengguncang desa Wae. Bencana alam melanda dan menyebabkan banyak kerusakan di desa. Rumah-rumah hancur, ladang-ladang terendam banjir, dan penduduk desa merasa putus asa. Ranu, seperti biasa, duduk di bawah pohon tua, merenung tentang cara mengatasi situasi ini. Dia memutuskan untuk berkumpul dengan para pemuda desa dan memulai rencana untuk membangun kembali desa mereka.
Selama berhari-hari, Ranu dan para pemuda bekerja keras. Mereka merencanakan pembangunan rumah, membersihkan reruntuhan, dan mendirikan sebuah posko/tempat untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ranu tidak hanya memberikan arahan praktis, tetapi juga memberikan semangat dan keyakinan kepada semua orang.
Saat matahari kembali bersinar cerah, hasil kerja keras mereka mulai tampak. Rumah-rumah baru berdiri megah, ladang-ladang kembali subur, dan semangat penduduk desa pulih. Semua orang bersyukur kepada Ranu, yang dengan pikiran bijaknya telah membantu mereka melewati masa sulit ini.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dengan Ranu. Dia semakin sering merenung dengan lebih dalam, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Orang-orang merasa khawatir tentangnya, khawatir bahwa beban yang dia pikul untuk desa mungkin terlalu berat baginya.
Suatu hari, salah seorang anak kecil mendekati Ranu di bawah pohon tua. Dengan mata polosnya, dia bertanya, "Menapa Ranu selalu merenung? Apa yang Ranu cari?"
Ranu tersenyum lembut pada anak itu dan berkata, "Aku mencari makna dalam kehidupan ini, kebijaksanaan untuk membantu orang lain, dan kedamaian dalam diriku sendiri."
Anak itu terkejut oleh kata-kata Ranu. Dia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi dia merasa ada kebaikan yang mendalam dalam jawaban itu. Sejak saat itu, anak-anak desa sering datang ke bawah pohon tua untuk duduk bersama Ranu, merenung bersama dengannya, dan belajar tentang kebijaksanaan dan kedamaian.
Dalam kisah ini, Ranu bukan hanya seorang penjala pikiran bagi orang dewasa, tetapi juga bagi generasi muda. Dia membantu penduduk desa mengatasi cobaan dan membangun kembali, sementara juga membimbing anak-anak untuk memahami arti sejati dalam hidup. Ranu Si Penjala Pikiran tetap dikenang dalam cerita dan hati orang-orang di desa Wae sebagai simbol kebijaksanaan, empati, dan kedamaian. Akankah kita seperti Ranu? Atau kita hanyalah Si Penghambat Pikiran dan Kreativitas orang-orang di sekitar kita? “Oleh: Jefrino, Si Anak Rantau”







0 komentar:
Posting Komentar