This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 November 2023

JANJI DESEMBER

Di antara embun malam yang berbisik,

Cahaya rembulan merayapi kegelapan,

Rindu menyanyikan lagu sepi,

Menyusuri lorong hati yang sunyi.

 

Kelahiran baru, seperti embun pertama,

Menyapa dunia dengan harap dan impian,

Sebuah jalan yang terbentang di hadapan,

Mengukir sejarah di lembar-lembar waktu.

 

Janji Desember membawa pesan kehidupan,

Sebuah panggilan untuk memahami makna,

Dalam setiap hela napas yang dihirup,

Dalam setiap langkah yang ditempuh.

 

Filosofi hidup tersembunyi dalam desis angin,

Menyusup di antara daun-daun yang berguguran,

Janji Desember adalah cerita tak terkira,

Dituliskan oleh pena waktu yang tak terelakkan.

 

Mengalunlah lagu rindu di tepi malam,

Berkumpullah dengan bintang-bintang yang bersinar,

Janji Desember adalah peluk hangat,

Mengiringi perjalanan jiwa yang mencari.

 

Dalam setiap titik pelangi yang melintas,

Terukirlah kenangan indah dan cinta,

Janji Desember adalah janji hati,

Yang membawa kita ke pelukan keabadian.

 

Hadirilah kelahiran baru dengan penuh kebijaksanaan,

Bukalah pintu hati untuk cinta dan pengampunan,

Janji Desember adalah panggilan kehidupan,

Mengajak kita menjadi pelukis takdir sendiri.

 

Terikat dalam janji yang terpatri dalam waktu,

Desember merangkai kisah indah dan lara,

Namun di dalamnya terdapat keajaiban abadi,

Kelahiran baru yang membawa makna sejati.

 

Biarlah Janji Desember menyentuh relung hati,

Menyulam impian di tiap benang waktu,

Sebuah puisi kerinduan dan kelahiran baru,

Mengukir takdir dalam langit yang biru.

 

Oleh Jefrino


PUISI RINDU


Di bumi yang dipayungi sang mentari,

Rindu memayungi hati yang resah,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang pemersatu?

 

Dalam pelukan malam yang sunyi,

Hatiku merintih, merindu suara bijak,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang penuh kasih?

 

Berserak-serak, persatuan tercabik,

Pecah belah dalam rona perbedaan,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang tuk menjembatani?

 

Lautan hujan mengalir di pipi bumi,

Air mata rakyat menyatu dalam penantian,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang jadi pelita?

 

Harmoni memudar, disharmoni menari,

Seakan lupa bahwa kita satu keluarga,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang tuk menyatukan jiwa?

 

Bunga-bunga merana, terinjak tanpa ampun,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang tuk menjaga keadilan?

 

Dalam doa-doa yang terbang ke angkasa,

Kumohon, kembalikan kedamaian,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau yang membawa cahaya?

 

Merindu pemimpin pemersatu,

Yang memeluk semua warna dan rasa,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau, sang penjaga cita-cita?

 

Terbang tinggi, oh burung pemikir,

Terbang bebas, membawa pesan persatuan,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau, sosok yang dicita-cita?

 

Gaungan keadilan, gemuruh di langit,

Merindu pemimpin pemersatu,

Pemimpin, oh pemimpin,

Di mana engkau, harapan terang?


Oleh Jefrino

TAHUN PENUH JANJI

 

Di malam yang sunyi, tahun berganti

Dalam kelamnya, harapan tumbuh bertiup

Angin membawa pesan, janji terucap

Selembar kisah baru, di setiap hela napas

 

Tahun penuh janji, di setiap detik

Sebuah perjalanan, di langit yang biru

Bagaikan catatan, di buku waktu tak terduga

Hati terbuka lebar, menyongsong yang akan datang

 

Janji-janji mengambang, di cakrawala mimpi

Bagai bintang-bintang, menyinari gelap malam

Kesempatan terlipat, seperti kertas yang dirobek

Tapi di setiap retak, ada celah harapan

 

Di bawah bulan purnama, kita berdiri bersama

Menyaksikan malam, tahun berlalu perlahan

Janji yang terucap, kita simpan dalam jiwa

Sebagai api yang membara, di dalam dada

 

Tahun penuh janji, melangkah dengan keyakinan

Meski badai menerpa, hati tak bergetar

Sebab di setiap tantangan, ada kekuatan yang tersembunyi

Sebuah pelajaran berharga, di setiap langkah

 

Pada akhirnya, ketika malam berganti pagi

Tahun penuh janji, terukir dalam sejarah

Mungkin ada kegagalan, tapi juga keberhasilan

Kita bersyukur atas setiap detik, karena hidup adalah anugerah

 

Di sini kita berdiri, di ambang yang baru

Tahun penuh janji, kita renungi bersama

Mengukir kisah di dinding waktu yang tak terbatas

Menyambut tahun yang datang, dengan hati yang penuh harap.


Oleh Jefrino

DESEMBER

Di tepian malam yang berdesir sunyi,

Janji Desember berkisah pada kerinduan.

Hatiku merentang dalam dekapan waktu,

Menyusuri jejak sepi yang melingkari.

 

Bintang-bintang berbisik rahasia langit,

Sorot matamu merekah dalam beningnya malam.

Di antara helaian malam yang tenang,

Kerinduanku terpatri dalam serpihan kenangan.

 

Desember, pembawa pesona yang merayu,

Menggenggam harapan di setiap hela nafas.

Kulihat cahaya yang memeluk kelam,

Sebuah pelukan dari kenangan yang hilang.

 

Dalam langkah-langkah berdansa menuju tahun baru,

Hatiku memendam harapan-harapan tak terucap.

Mimpi-mimpi merambat di malam yang tak berkesudahan,

Seperti kembang api yang memburu langit.

 

Janji Desember, engkau saksi bisu asmara,

Teringat setiap detik yang berlalu bersama.

Dalam relung hati, kumohon keajaiban datang,

Mengembuskan angin yang membawa jawaban.

 

Natal tiba dengan lagu-lagu damai,

Meluluhkan hati yang tegang dan resah.

Di dalam salju putih, harapan mekar bak bunga,

Menyapu jejak kerinduan, membawa kehangatan.

 

Tahun baru mengintip dari balik langit,

Seperti janji yang tergantung di ujung senja.

Matahari terbenam, merangkul masa depan,

Membawa cerita baru, menyulam mimpi-mimpi.

 

Janji Desember, sejuta harapan merona,

Bagai pelangi di ufuk yang menjelang.

Di dalam doa, kuukir namamu dengan rindu,

Agar hati ini tak pernah lelah berharap.


GURU

 

Engkau, pemimpin ilmu yang agung,

Menyinari dunia dengan hikmah yang tulus.

Pena kebijaksanaan menari di tanganmu,

Mengukir pelajaran dalam hati yang terbuka.

 

Kau, sang pencerah jalan kebenaran,

Mengajarkan bukan hanya kata-kata,

Tetapi nilai-nilai dalam setiap baris,

Seperti bait puisi yang abadi terukir.

 

Di ruang kelas, dunia terbentang luas,

Siswa-siswa belajar di bawah bayangmu.

Engkau bukan sekadar pengajar,

Tetapi arsitek masa depan yang cemerlang.

 

Wajahmu bagai buku berjalan,

Kisah hidup dan ilmu terpancar dari matamu.

Kau tanamkan benih kebijaksanaan,

Seiring waktu, tumbuh menjadi kecerdasan.

 

Dalam detik-detik keheningan,

Kau berbicara dengan kata-kata diam.

Pandanganmu sarat akan makna,

Mengajarkan lebih dari sekadar pengetahuan.

 

Engkau, pahlawan tanpa tanda jasa,

Membimbing generasi menuju cahaya.

Puisi ini adalah penghormatan,

Untukmu, guru, penjaga api kebijaksanaan.


Oleh Jefrino

Rabu, 30 Agustus 2023

RANU SI PENJALA PIKIRAN

 

Di tepi sebuah danau yang tenang, terhampar sebuah desa kecil yang indah. Desa itu dikenal dengan nama Wae, sebuah kata yang dalam bahasa setempat berarti "Air". Di dalam desa hiduplah seorang pemuda bernama Ranu. Dia dikenal oleh penduduk desa sebagai "Ranu Si Penjala Pikiran" karena kemampuannya yang luar biasa dalam merenung dan memahami berbagai situasi.

Ranu memiliki wajah yang selalu tampak tenang, matanya penuh dengan kedalaman, dan senyumnya yang hangat mampu menghibur siapa pun yang bertemu dengannya. Setiap pagi, dia duduk di bawah pohon tua di tepi danau, memandang air yang tenang sambil merenung. Orang-orang datang kepada Ranu ketika mereka memiliki masalah atau pertanyaan yang sulit. Ranu akan mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu dengan bijaksana memberikan saran yang membuat mereka merasa lebih baik.

Suatu hari, sebuah peristiwa besar mengguncang desa Wae. Bencana alam melanda dan menyebabkan banyak kerusakan di desa. Rumah-rumah hancur, ladang-ladang terendam banjir, dan penduduk desa merasa putus asa. Ranu, seperti biasa, duduk di bawah pohon tua, merenung tentang cara mengatasi situasi ini. Dia memutuskan untuk berkumpul dengan para pemuda desa dan memulai rencana untuk membangun kembali desa mereka.

Selama berhari-hari, Ranu dan para pemuda bekerja keras. Mereka merencanakan pembangunan rumah, membersihkan reruntuhan, dan mendirikan sebuah posko/tempat untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ranu tidak hanya memberikan arahan praktis, tetapi juga memberikan semangat dan keyakinan kepada semua orang.

Saat matahari kembali bersinar cerah, hasil kerja keras mereka mulai tampak. Rumah-rumah baru berdiri megah, ladang-ladang kembali subur, dan semangat penduduk desa pulih. Semua orang bersyukur kepada Ranu, yang dengan pikiran bijaknya telah membantu mereka melewati masa sulit ini.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dengan Ranu. Dia semakin sering merenung dengan lebih dalam, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Orang-orang merasa khawatir tentangnya, khawatir bahwa beban yang dia pikul untuk desa mungkin terlalu berat baginya.

Suatu hari, salah seorang anak kecil mendekati Ranu di bawah pohon tua. Dengan mata polosnya, dia bertanya, "Menapa Ranu selalu merenung? Apa yang Ranu cari?"

Ranu tersenyum lembut pada anak itu dan berkata, "Aku mencari makna dalam kehidupan ini, kebijaksanaan untuk membantu orang lain, dan kedamaian dalam diriku sendiri."

Anak itu terkejut oleh kata-kata Ranu. Dia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi dia merasa ada kebaikan yang mendalam dalam jawaban itu. Sejak saat itu, anak-anak desa sering datang ke bawah pohon tua untuk duduk bersama Ranu, merenung bersama dengannya, dan belajar tentang kebijaksanaan dan kedamaian.

Dalam kisah ini, Ranu bukan hanya seorang penjala pikiran bagi orang dewasa, tetapi juga bagi generasi muda. Dia membantu penduduk desa mengatasi cobaan dan membangun kembali, sementara juga membimbing anak-anak untuk memahami arti sejati dalam hidup. Ranu Si Penjala Pikiran tetap dikenang dalam cerita dan hati orang-orang di desa Wae sebagai simbol kebijaksanaan, empati, dan kedamaian. Akankah kita seperti Ranu? Atau kita hanyalah Si Penghambat Pikiran dan Kreativitas orang-orang di sekitar kita? “Oleh: Jefrino, Si Anak Rantau”

SUARA ILMU


Dengarlah, oh hati yang lapang,
gemercik suaranya bagai aliran sungai.
Ia mengalirkan hikmah dalam riak yang halus,
membuka pintu dunia, mengajak terus.
Seperti seruling yang menyentuh awan,
suaranya mengalun indah, tiada ternilai.
Ia memecah kegelapan, menerangi jalan,
menuntun yang haus akan pengetahuan.
Kata-kata merangkai makna dalam harmoni,
seperti melodi yang memikat jiwa yang lapar.
Bukan hanya kata, tapi pintu ke dalam dunia,
tempat di mana ide-ide berkumpul berdansa.
Suaranya takkan pernah usang,
ia terukir dalam sejarah dan masa depan.
Dalam setiap kata yang terucapkan,
terbawa keabadian, membentuk akhir dan permulaan.
Di dalam perpustakaan, di dalam kelas,
suaranya menggema, menghidupkan ruang.
Ia tak lelah memberi makna, menginspirasi,
bagai cahaya yang menerangi gelapnya malam.
Bersama suaranya, kita mengarungi lautan,
melewati badai keraguan, menuju pencerahan.
Ia adalah nafas yang mengembuskan semangat,
mendorong kita maju, tak gentar terhadap tantangan.
Jadi dengarlah, oh hati yang terbuka,
suaranya memanggil, mengajak berpetualang.
Dalam setiap kata, dalam setiap cerita,
tersimpan hikmah yang abadi, takkan pernah pudar.

Jumat, 14 Juli 2023

SUARA SI ANAK RANTAU

 

Di atas putih kosong ini

Goresan-goresan kisah tak bertepi mengalir

Tentang hidup bersimbah peluh kesah bermakna

Dalam keheningan malam berteman cahaya 

Sesayup sunyi menghempas nurani

Serentak!

Suara bergumam dengan lembut

tuk menghalau kebisingan tak bermakna

Mungkin bagimu:

 Rantau adalah kesenangan?

Bukan!

Rantau perihal merindu yang tak berujung

Tentang cinta di seberang yang kian menyendu

Mungkin bagimu:

Rantau adalah kemewahan?

Bukan!

Rantau adalah saat keadaan bertemu jiwa penuh syukur

Mungkin bagimu:

 Rantau adalah kesendirian?

Bukan!

Rantau adalah saat jiwa berziarah dalam keramaian

berkejaran dengan kerasnya dunia

Tuk menggapai impian yang akan dituai nanti


Resah di Ujung Senja

  Aku mencintaimu seperti mencintai puisi yang hilang, Yang dulu disuarakan oleh para pejuang, Kini mungkin hanya menjadi gema yang sa...